Green Job Jadi Peluang Lapangan Kerja di Masa Depan

Jakarta 1 November 2020 – Di masa depan energi bersih dan terbarukan bakal menjadi primadona. Berbagai penelitian, jurnal dan analisis global memperlihatkan masa depan bisnis energi dunia 20 hingga 30 tahun ke depan, dimana energi baru terbarukan akan memegang peran dominan dalam penggunaan energi global.

Seiring dengan kebutuhan energi bersih dan terbarukan (renewable energy) maka juga dibutuhkan orang-orang yang ahli tentang energi bersih dan terbarukan. Di masa depan profesi yang terkait dengan bidang-bidang ini akan banyak dicari.

Green Job atau berbagai jenis pekerjaan yang mendukung pelestarian lingkungan akan memegang peranan penting. Green jobs menjadi lambang dari perekonomian dan masyarakat yang lebih berkelanjutan dan mampu melestarikan lingkungan, baik untuk generasi sekarang maupun untuk generasi yang akan datang.

“Tantangan ke depan yang akan dihadapi manusia di tahun 2030, maupun 2050 kebanyakan merupakan tantangan iklim dan lingkungan hidup. Penggunaan energi yang salah yakni fosil telah terbukti menyebabkan pemanasan global,” kata Armansyah Alumni Erasmus Mundus Pegiatan Energi Terbarukan pada Instagram Live Session on Studying, Innovating, and Greening Jobs for the Post COVID-19 Era, Minggu (1/11) dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa. 

Di masa yang akan datang orang-orang yang punya keahlian di bidang energi bersih dan renewable energy akan dicari, “Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak muda untuk belajar di bidang-bidang ini misalnya energi matahari, energi angin, energi gelombang, energi panas bumi, dan juga energi bio massa,” ungkap Armansyah.

Selain energi terbarukan dan ramah lingkungan di tahun 2030 diperkirakan masalah urbanisasi, krisis iklim dan air bersih bakal membutuhkan tenaga ahli di bidang tersebut.

Talkshow yang dipandu oleh Lisa Wijayani, Program Manager Green Economy, Institute for Essential Services Reform (IESR) ini membahas potensi belajar, mendorong inovasi, dan juga mempromosikan pekerjaan ramah lingkungan.

Selain itu juga terkait pengetahuan tentang transisi energi, jenis-jenis energi terbarukan, serta implementasi inisiatif energi bersih di Indonesia dan bagaimana hal ini dapat lebih ditingkatkan di masa mendatang.

Pekan Diplomasi Iklim 2020 berlangsung mulai 24 Oktober hingga 6 November mendatang, terdiri dari serangkaian kegiatan webinar, talkshow, pertunjukkan film, demo masak, fashion show hingga penyulingan kopi, yang merupakan cara kreatif Uni Eropa dalam mengampanyekan perubahan iklim. Tahun ini, Uni Eropa berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia, 8 kedutaan besar negara-negara anggota Uni Eropa dan lebih dari 100 organisasi not-profit, kelompok pemuda, perwakilan komunitas, sector swasta, selebriti dan opinion leader serta penggiat lingkungan.

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share