Pandemi Covid-19 Momen Tepat Transisi Dari Bahan Bakar Fosil ke Energi Terbarukan

Jakarta, 2 November 2020 – Transisi pemanfaaan batubara sebagai sumber energi menuju ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan terus digenjot. Batubara memang menjadi bahan bakar termurah untuk pembangkit listrik, namun penggunaan energi yang bersumber dari fosil ini terbukti menimbulkan peningkatan emisi karbon dan memicu perubahan iklim.

Perlu upaya perubahan dari memanfaatkan batubara sebagai sumber energi ke energi yang lebih ramah lingkungan. Pandemi COVID-19 yang melanda dunia menjadi momentum untuk mendesain ulang kembali perekonomian kita menjadi ekonomi hijau, selain pemulihan dari krisis juga mengakomodir isu perubahan iklim. 

Fabby Tumiwa, Executive Director IESR mengatakan Indonesia mengalami penurunan ekspor batubara lebih dari 11 persen tahun ini akibat pandemi covid-19. Meski untuk perekonomian hal ini berdampak negatif namun sisi positifnya kondisi ini menjadi momen untuk transisi ke energi yang lebih berkelanjutan, mengingat negara-negara pengimpor batubara dari Indonesia kini telah bergeser ke energi yang berkelanjutan. “Menurunnya permintaan ini merupakan peluang untuk akselerasi percepatan perpindahan ke energi yang lebih ramah lingkungan, jika pemerintah melihat ini sebagai peluang,” katanya pada Webinar Pemulihan Hijau Pasca Covid-19 dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Salah satu negara yang telah mulai meninggalkan batu bara dan beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan yakni Polandia, yang telah berorientasi untuk pengembangan energi terbarukan dan mengurangi penggunaan batubara. “Batubara tak lagi mengundang minat masyarakat dan investor, kebanyakan dari mereka lebih tertarik ke energi yang terbarukan. Dalam draft yang disusun oleh Kementerian Energi Polandia, strategi energi targetnya mengurangi penggunaan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik dari 73 persen tahun ini menuju 11 persen di tahun 2040,” Lidia Wojtal, Pimpinan Proyek, Agora Energiewende.

Sementara Thomas Capral Henriksen, Head of Energy Cooperation at the Embassy of Denmark to Indonesia menyebutkan penggunaan energi yang telah ramah lingkungan telah dimulai di Denmark sejak beberapa tahun yang lalu. Denmark bersama Uni Eropa ke depan akan fokus kepada pemenuhan energi yang lebih ramah lingkungan. “Uni Eropa akan fokus dan masif berinvestasi ke energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan, begitu juga dengan Denmark. Melalui European Green Deal, Uni Eropa akan fokus melakukan kemitraan internasional termasuk juga pendanaan yang jumlahnya 1 triliun euro untuk investasi berkelanjutan selama 10 tahun ke depan,” katanya.

Catrina Laura Godinho, Koordinator Proyek, Climate Transparency menyebutkan pandemi Covid-19 membawa dampak positif terhadap keseimbangan alam. Dampak dari melambatnya aktivitas ekonomi di seluruh dunia, berkurangnya konsumsi batubara dan penurunan emisi karbon yang mencemarkan lingkungan, namun demikian menurut Catrina kebijakan paket recovery ekonomi dari negara-negara G20 masih banyak yang berpotensi untuk peningkatan kembali konsumsi bahan bakar.

Lourdes Sanchez, Pemimpin dan Penasehat Senior Kebijakan, IISD melihat Indonesia sebagai negara yang tergabung di G20 masih berkomitmen terkait perubahan iklim, BUMN seperti PLN, Pertamina dan juga Garuda Indonesia masih mengalokasikan anggaran untuk pengembangan energi terburkan. “Kita melihat masih ada komitmen, melihat kondisi pandemi seperti sekarang ini dan ada masalah penting lainnya seperti kesehatan yang perlu ditangani,” katanya.

Sementara pemerintah Indonesia menurut Ridha Yasser, Ph.D, Deputi Direktur Program dan Investasi Energi, Direktorat Energi, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, saat ini masih memprioritaskan pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Meski begitu juga tak mengabaikan upaya mereduksi karbon dan pengembangan energi terbarukan. Indonesia telah mulai melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik tenaga air di Cirata.

Ridha mengakui tidaklah mudah untuk bisa mewujudkan transisi menuju energi terbarukan. “Kita membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk dari Uni Eropa, kita sangat terbuka,” katanya.     

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share