Indonesia Perlu Gencarkan Transportasi Rendah Karbon

Jakarta, 4 November 2020 – Sektor transportasi menyumbangkan emisi karbon terbesar secara global. Per tahun 2010, sebanyak 14% dari emisi GHG secara global berasal dari transportasi, dimana polusinya bisa memicu resiko terhadap kesehatan manusia dan ekosistem perkotaan. Lebih lanjut, kerusakan lingkungan pun bisa terjadi akibat ketergantungan tinggi dalam penggunaan energi fosil. Dalam konteks tersebut, maka penggunaan transportasi yang menghasilkan emisi rendah karbon, merupakan respon kebijakan yang paling efektif.

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Ahmad Safruddin menyampaikan data penjualan kendaraan di Indonesia per tahun 2019 ada sebanyak 1,02 juta unit mobil dan 6,48 juta unit motor.

“Semua ini bisa menghasilkan polusi yang semakin buruk, utamanya di kota besar. Sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat,” ujar pria yang biasa disapa Puput ini, dalam Panel Discussion on Low-Carbon Transportation, Rabu (4/11), dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Sementara itu, Puput mengatakan transportasi publik yang ada saat ini masih banyak mengandalkan bus Transjakarta yang masih menggunakan bahan bakar fosil. Sementara, alternatif moda transportasi seperti MRT dan LRT belum mencukupi kebutuhan masyarakat yang besar. “Jakarta mudah-mudahan bisa berhasil mengoperasikan bus listrik, walaupun sejak tahun lalu mencoba bus listrik, sudah diluncurkan, tapi jumlahnya tidak cukup,” katanya.

Tak hanya menambah moda transportasi rendah karbon, Puput menilai Indonesai juga perlu terus berbenah untuk meningkatkan standar kualitas kendaraan bermotor dengan mengadopsi standar Eropa. Di sisi lain, dirinya juga berpendapat bahwa Indonesia masih sulit untuk mendapatkan suplai bus listrik yang bisa dioperasikan.

Direktur Asosiasi Bahan Bakar Alternatif Polandia (PSPA), Aleksander Rajch mengatakan konsistensi kebijakan transportasi menjadi kunci penerapan rendah karbon. Selain itu, juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat dalam perilaku sehari-hari.

“Perusahaan yang akan memperkenalkan produk-produk baru maka mereka perlu tahu regulasi-regulasi yang jelas dan kesadaran masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Alicja Pawłowska dari Pusat Kajian untuk Perubahan Iklim Institut Perlindungan Lingkungan Hidup (IOS-PIB) menekankan upaya mewujudkan emisi rendah karbon dalam sektor transportasi juga perlu dibangun ekosistemnya. Baik itu fasilitasnya hingga kepercayaan masyarakat kepada pembuat kebijakan. “Pemerintah harus tetap meyakinkan bahwa mereka harus tetap menjalankan janji-janji pembangunan,” ujarnya.

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share