Buka Mata, Pencemaran Sampah Plastik di Laut Semakin Mengkhawatirkan

Jakarta, 27 Oktober 2020 – Pekan Diplomasi Iklim 2020 yang berlangsung mulai 24 Oktober hingga 6 November 2020 memasuki hari keempat Selasa (27/10) dengan menayangkan dokumentasi tentang sampah plastik di lautan. Film berdurasi 18 menit ini diceritakan dari sudut pandang para pelaut Italia yang secara langsung mengalami serbuan sampah laut dan mikroplastik di laut.

Apa yang ditampilkan dalam film ini membuka mata kita tentang parahnya kondisi pencemaran laut yang sudah terjadi. Film pendek yang pertama ditayangkan pada 2018 ini menceritakan tentang berton-ton sampah plastik yang setiap harinya dibuang ke laut dan mengakibatkan rusaknya ekosistem di lautan, bagaimana hal itu berdampak pada kehidupan makhluk yang ada di laut dan juga manusia.     

Linda Paoli Ahli Konservasi Terumbu Karang Italia yang berdomisili di Indonesia mengatakan saat ini ada jutaan potongan sampah plastik yang ada di lautan, sampah-sampah itu mengakibatkan ratusan ribu makhluk yang ada di laut dan jutaan burung-burung yang hidup di lautan mati setiap tahunnya. Dan kondisi ini masih terus berlangsung saat ini.     

“Belum terlambat untuk memperbaikinya, kini saatnya setiap orang memberi perhatian yang lebih dan mencari solusi bersama untuk mengatasi permasalahan ini,” ujarnya pada webinar Short Documentary Movie Screening ‘Stand by the Sea – Italian Sailors Against Ocean Plastic Waste’, (27/10). Faktor ekonomi dan kesadaran masyarakat yang masih rendah tentang bahaya sampah plastik bagi lingkungan menurut Linda menjadi tantangan dalam memerangi limbah plastik yang mencemari lautan.   

Marco Segre Ahli Biologi Kelautan asal Italia pada kesempatan tersebut juga berbagi pengalamanya tentang penanganan sampah plastik di Pulau Bangka. Marco melalui lembaga No Trash Triangle Initiative mengedukasi masyarakat di Bangka tentang bahaya dan dampak sampah plastik yang dibuang ke laut bagi kehidupan.

“Kita mempelajari dan mengelola masalah sampah plastik di Pulau Bangka, idenya adalah untuk mengelola sampah. Mengumpulkan plastik, memisahkannya dan mengirimkannya kembali untuk didaur ulang,” katanya.     

Miriam Weber peneliti Biologi Kelautan asal Jerman dari IDRA Institute mengatakan tanggung jawab untuk mengatasi semakin parahnya limbah plastik yang mencemari lautan tak hanya di tangan pemerintah yang menyusun manajemen pengelolaan sampah, akan tetapi juga penghasil dan masyarakat global yang mesti mencari solusi lebih bertanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share