Peran Budaya Lokal untuk Mitigasi Dampak Perubahan Iklim

Jakarta, 30 Oktober 2020 – Upaya mengatasi dampak perubahan iklim, bisa dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya, melalui pelestarian budaya lokal setempat yang telah hidup di tengah masyarakat dari generasi ke generasi.

Budaya lokal ini menjadi dasar berpikir untuk menggerakkan aksi masyarakat. Sehingga, kondisi lingkungan saat ini bisa dijadikan introspeksi pemeliharaan alam demi masa depan anak-anak sebagai pewaris dampak dari segala macam situasi.

River Defender, Co-Founder Hakikat Ciliwung Bogor, Suparno Jumar mengatakan kondisi lingkungan serta memang penting untuk dijaga melalui kearifan lokal masyarakat setempat. Sebab jika tidak, kerusakan dari satu generasi ke generasi selanjutnya tidak bisa dihindari.

Ia bercerita, pada tahun 1986 hingga awal 1990 lalu panen padi di masyarakat selalu dibarengi dengan panen ikan karena kondisi sungai yang masih baik. Namun kemudian, produksi padi menjadi turun dan ikan pun perlahan tidak lagi ada.

“Ini karena kontribusi pestisida sehingga berpengaruh ke masyarakat juga. Karena pada yang dikonsumsi tidak seorganik dulu,” ujar Suparno pada webinar Traditional Wisdom & Cultural Perfomance on “River Protection” Confirmation, Jumat (30/10), dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Jika sudah begitu, kata dia, masyarakat perlu kembali lagi kepada perilaku yang menjaga keseimbangan alam. Seperti mengurangi pupuk kimia hingga di level kebijakan masyarakat daerah setempat hingga pusat mesti turut serta.

“Berbicara sungai, dari dulu dan sekarang itu tumpuan pertanian. Pada saat sungai kotor, tercemar limbah, dunia pertanian akan menderita,” tegasnya.

Dalam upaya pelestarian lingkungan itu, masyarakat melibatkan budaya lokal yang memberi pemaknaan dan pembelajaraan. Misalnya saja, Kaulinan Budak (olah raga, bermain dan bersih-bersih sungai), Sora Tatabuhan & Tutur Kolot Baheula: musik tradisional (suling, karinding, ronteng).

Ada pula budaya Jangjawokan Keur Budak (cerita kedaerahan dan kearifan lokal), Berkah Ci Nteh (budaya minum teh bersama diiringi harapan untuk masa depan).

“Ini memberikan pelajaran untuk stay humble, peduli lingkungan dan keseimbangan alam. Sesuatu itu jangan berlebihan, harus seimbang, karena kalau tidak seimbang akan ada yang jadi korban, ya lingkungan,” kata dia.

Ketua Lesbumi NU Kota, Pengapu Pustaka Budaya dan Sejarah Kesultanan Kenoman Cirebon, Ifful Azka mengatakan budaya lokal yang masih dilestarikan masyarakat juga berguna sebagai bahan perenungan agar lebih bijak hidup berdampingan dengan alam.

Ia mencontohkan, hal itu bisa ditemukan dalam budaya membagikan nasi jimat. Beras terbaik yang dipanen, dalam proses memasaknya pun tidak boleh bersuara dan mesti dalam kondisi puasa ngalus seperti makan sesuatu yang tidak bernyawa, dengan bumbu-bumbu yang dicampur untuk kebaikan tubuh.
“Sehingga seperti memberikan upeti kepada kerajaan-kerajaan hasil buminya, yang sama sekali tidak ada unsur kimia, bahwa spirit ini dilaksanakan melalui doa-doa yang dibangun,” ujarnya.

Menyoal itu, Owner Rumah Belajar Ilalang Jepara, Den Hasan pun meyakini bahwa pelestarian terhadap adat leluhur memiliki pesan penting. Termasuk, cerita-cerita rakyat sebagai panduan yang berguna bagi generasi mendatang.

“Saya meyakini mitologi yang dibangun nenek moyang kita bukan untuk animisme dinamisme semata, misal jangan tebang pohon dipinggir sungai. Ini seperti taktik leluhur agar alam lestari,” katanya.

Dalam upaya pelestarian alam dengan budaya lokal ini, anak muda termasuk generasi milenial tentu perlu dilibatkan aktif. Sebab dengan begitu, budaya lokal yang lekat dengan nilai luhur itu bisa diaplikasikan secara berkelanjutan.

Hal itulah, yang membuat Gema WSP Nasution Penggagas Mari Kita Berkebun, Gerakan Ketahanan Pangan, dan Kebun Kolektif Milenial, Bogor akhirnya memiliki inisiatif untuk terus menggerakkan anak muda mau peduli dengan lingkungan dan dampak perubahan iklim.

Ia mengatakan perubahan iklim memiliki dampak serius yang tak bisa diabaikan seperti bencana alam. Namun, Ia menilai banyak anak muda yang kini apatis dengan aksi langsung mengambil peran. “Nyaman dengan medsos, hanya komen di medsos,” katanya.

Maka dari itu, melaui gerakan berkebun, aksi menanam untuk ketahan pangan serta memberdayakan kebun secara kolektif dia mulai melakukan kampanye dan ajakan kepada para milenial. Uniknya, pemanfaatan teknologi justru digunakan untuk mengoptimalkan aksi.

“Ini agar anak muda tidak hanya teriak-teriak, tapi gak ngasih solusi,” pungkasnya.

Pekan Diplomasi Iklim 2020 berlangsung mulai 24 Oktober hingga 6 November mendatang, terdiri dari serangkaian kegiatan webinar, talkshow, pertunjukkan film, demo masak, fashion show hingga penyulingan kopi, yang merupakan cara kreatif Uni Eropa dalam mengampanyekan perubahan iklim. Tahun ini, Uni Eropa berkolaborasi dengan pemerintah Indonesia, 8 kedutaan besar negara-negara anggota Uni Eropa dan lebih dari 100 organisasi not-profit, kelompok pemuda, perwakilan komunitas, sector swasta, selebriti dan opinion leader serta penggiat lingkungan.

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share