Strategi Jaga Sumber Air, Pangan dan Energi untuk Hidup Berkelanjutan

Jakarta, 2 November 2020 – Air, energi dan pangan merupakan tiga unsur penting untuk keberlangsungan hidup manusia. Ketiga elemen tersebut saat ini telah terdampak perubahan iklim, dan dibutuhkan sinkronisasi antar pihak sebagai landasan yang kuat untuk melakukan aksi bersama. Akibat dari perubahan iklim kelangkaan air dan pangan sudah banyak dialami, perlu adanya transisi cepat ke energi terbarukan.

Alifah Lestari, Deputy Chief of Party, IUWASH mengatakan ketahanan air yakni ketersediaan dan keberlanjutan air di alam menjadi isu yang sangat penting. “Perubahan iklim mengakibatkan air cepat hilang, padahal semestinya bisa tertahan oleh alam sehingga saat dibutuhkan akan tersedia,” katanya pada Webinar on tentang Air – Energi – Pangan: Mitigasi & Adaptasi Iklim, Senin (2/11) dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa. .

IUWASH menurutnya telah melakukan program kajian kerentanan mata air yang menghasilkan rekomendasi yakni pembuatan sumur resapan. “Sumur resapan yang dibangun memberikan hasil yang signifikan untuk pengembangan kapasitas mata air, sekaligus mereduksi banjir,” katanya.

Sumur resapan berukuran 8 meter kubik ini berfungsi mengumpulkan, menahan dan menyerap air permukaan ke dalam tanah untuk menambah cadangan air. Menurutnya sudah ada ribuan sumur resapan yang telah dibangun di Indonesia di 35 kabupaten di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Indonesia bagian timur.    

Sementara itu Kariza Dewi Wiryanti, ICDRC Project Manager, OXFAM Indonesia mengatakan krisis air telah dialami masyarakat di Flores Timur dan Kupang 10 tahun terakhir dan itu berpengaruh terhadap pertanian mereka.

Padi dan jagung yang biasa ditanam oleh petani gagal panen karena kekurangan air, padahal    60 persen penduduk di Kupang dan Flores Timur merupakan petani. Dampak perubahan iklim kini setiap tahunnya 156 desa di Flores Timur menghadapi kekeringan dan gagal panen, dan ini mengakibatkan gizi buruk.

Upaya adaptasi iklim dilakukan untuk mengurangi dampak risiko tersebut diantaranya pengembangan tanam konsumsi dan usaha sorgum menggantikan padi jagung dan kedelai yang tidak tepat ditanam  di sana, penanaman sayur organik dan permakultur dan juga sollar drip irigation atau irigasi tetes memanfaatkan sinar matahari.       

“Kita mengupayakan setidaknya masyarakat di sana pangannya tercukupi, yang sebelumnya menanam padi, jagung, kedelai dikombinasikan dengan sorgum,” katanya. OXFAM melakukan pendampingan mulai dari pemilihan bibit unggul, pengolahan hingga pemasarannya.   

Berbicara tentang air dan makanan tak lepas dari energi. Penggunaan energi fosil selama beberapa waktu terakhir terbukti memicu terjadinya pemanasan global, diperlukan renewable teknologi untuk bisa menggantikannya.

Annisa A. Hanifa, Communication & Stakeholder Relation Yayasan Rumah Energi mengatakan saat ini masyarakat masih tergantung dengan energi fosil dalam kehidupan sehari-harinya, padahal seperti diketahui energi tersebut merupakan penyumbang emisi tersebar yang memicu pemanasan global.

“Program kita untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa energi terbarukan itu merupakan solusi bukan hambatan,” katanya. Salah satu yang berpotensi dimanfaatkan yakni pemanfaatan biogas yang memanfaatkan peternakan dan sampah organik lainnya. Program biru program biogas rumah yang memanfaatkan gas metan yang diuraikan dari kotoran hewan maupun sampah organik diolah menjadi gas. Ditargetkan pada tahun 2025 sebesar 489,8 juta M3 dan perluasan menjadi 1,7 juta rumah tangga.  

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share