Potensi Milenial Raup Cuan dari Membangun Startup Energi

Jakarta, 3 November 2020 – Membangun startup atau perusahaan rintisan di sektor energi merupakan salah satu ide potensial untuk dikembangkan, khususnya bagi generasi milenial. Selain membantu upaya berbagai negara di dunia untuk memitigasi dampak perubahan iklim, startup energi juga memiliki peluang ekonomi yang sangat potensial ke depannya.

Menurut Manajer Riset dan Pengembangan Coaction Indonesia, Aziz Kurniawan, keberadaan startup energi akan memberi kontribusi besar untuk Indonesia yang lebih bersih. Selain itu, peluang dari sisi ekonominya terbuka lebar karena sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai penggunaan energi terbarukan sebesar 23 persen di 2025.

“Saat ini energi terbarukan baru sekitar 10 persen, artinya peluangnya masih sangat besar. Dengan peluang yang terbuka lebar, startup energi terbarukan ini sangat tepat,” ujar Aziz dalam Gren Jobs Workshop: Buiding Up Your Own Energy Start-Ups yang digelar Coaction, Selasa (3/11), dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.  

Dalam kesempatan ini, peserta tak hanya mendapatkan berbagai materi mengenai potensi energi terbarukan, tetapi juga diberi kesempatan berinteraksi langsung dengan para pelaku yang sudah lebih dulu terjun di dunia startup energi.

Seperti salah satunya, Mahasiswa ITB, Bagas Indrayatna, yang berkesempatan menyampaikan secara langsung ide yang ingin dikembangkan yaitu alat kontrol otomatis untuk peralatan elektronik hingga lampu untuk tujuan efisiensi biaya listrik. Terkait ide tersebut, Aziz memberikan saran agar sebelum membangun startup, Bagas harus berupaya membuat biaya seminimal mungkin. Kemudian seberapa besar perusahaan yang dibangun mampu menjangkau pasar lebih luas dalam waktu singkat.

Manajer Program New Energy Nexus, Adit Mulya Pratama, bahkan memuji ide Bagas. Adit lantas memberikan saran agar Bagas bisa memulai lebih cepat dan mulai mempersiapkan potensi pasar serta sasaran pertama yang ingin dituju. “Kemudian siapa saingan dari pemain pasar itu dan apa keunggulan kalian. Terakhir end goals kalian apa,” ujar Adit.

Sebelumnya, Adit juga sudah memaparkan poin-poin untuk membangun startup di sektor energi. Mulai dari memikirkan suatu masalah plus solusinya, membuat agar ide kita gampang dipahami masyarakat, ketepatan waktu, memastikan pasarnya, hingga pembentukan tim yang apik serta mempertimbangkan siapa pesaingnya.

Sementara Co-Founder Cleanomic, Denia Isetianti, menambahkan jenis teknologi yang ingin dibuat harus sudah diputuskan serinci mungkin sejak awal. Di samping itu, siapa penyuplai atau justru dirancang sendiri juga mesti sudah ditentukan. “Kira-kira suppliernya siapa ya, pabrik yang bisa ngerjain siapa. Lalu bentuknya seperti apa, dan pengaplikasiaannya bisa semasif apa, itu harus ditentukan dari awal,” jelas Denia.

Social Share