Energi Terbarukan, Alternatif Energi Bersih Terjangkau bagi Masyarakat

Jakarta, 5 November 2020 – Penggunaan energi terbarukan (ET) memiliki peran penting sebagai energi bersih yang bermanfaat bagi masyarakat. Tak hanya menciptakan ekosistem lingkungan hidup yang sehat, namun juga lebih terjangkau secara ekonomi. Berbagai negara termasuk Uni Eropa (UE) dan Indonesia telah ambil bagian dalam langkah itu, salah satunya, melalui kesepakatan Paris.

Konselor Pertama Lingkungan, Aksi Iklim, ICT, UE untuk Indonesia dan Brunei, Henriette Faergemann menyampaikan apresiasinya bagi Indonesia yang menerapkan kesepakatan hijau itu dalam kerangka kerja nasional terkait penggunaan sumber energi terbarukan.

“Kami yakin bahwa ide-ide soal energi terbarukan, yang juga menjadi inti dari pembangunan kembali Indonesia yang lebih baik, akan memperkuat kemitraan antara UE dan Indonesia. Kesepakatan hijau tersebut akan menjadi peta jalan dalam meningkatkan penggunaan sumber daya secara lebih efisien. dengan mengalihkan ke ekonomi yang bersih dan melingkar,” ujar Henritte dalam EuroCham Webinar – SDG Talk #2 Renewable Energy, the New Norm? Myth or Reality?, (5/11), dalam rangkaian Pekan Diplomasi Iklim Uni Eropa.

Eksekutif Direktur Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Paul Butarbutar mengatakan kunci keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan ET adalah menguatkan kebijakan dan regulasi yang jelas, termasuk insentif, disinsentif, dan merit order.

“Memberikan arahan yang jelas dan memberikan sinyal peluang pasar yang mendorong investasi. Selain itu, keterjangkauan harga ET bagi produsen hingga konsumen juga harus diupayakan. Maka dari itu, pemerintah perlu mengintegrasikan biaya eksternalitas akan meningkatkan daya saing ET dibandingkan bahan bakar berbahan fosil. Kemudian strategi pengadaan ET perlu dikombinasikan dengan insentif seperti koneksi jaringan, ketersediaan lahan, izin,” ujarnya.

Direktur Sustainable, Danone AQUA/Ketua Kelompok Kerja Sustainable Development EuroCham, Karyanto Wibowo mengatakan bahwa sektor swasta juga perlu ambil bagian dalam penerapan energi terbarukan yang berfokus pada empat pilar: iklim, air, ekonomi melingkar (sirkular), dan pertanian.

“Danone AQUA berambisi memerangi perubahan iklim dengan menjadi perusahaan netral karbon pada 2050. Kami juga melestarikan, mengoptimalkan dan berbagi dengan mengintegrasikan pengelolaan sumber daya air. Sementara upaya ekonomi melingkar dilakukan dengan memulihkan lebih banyak plastik daripada yang kita gunakan pada tahun 2025. Untuk pertanian kami mendorong praktik pertanian regeneratif yang melindungi tanah, meningkatkan kesejahteraan hewan dan memberdayakan generasi baru petani,” terang dia.

Tidak hanya Danone Indonesia, perusahaan bir Bintang Indonesia pun mengambil langkah dalam kontribusi penerapan energi terbarukan dalam bisnisnya. Direktur Corporate Affairs, Multi Bintang Indonesia (BMI), Ika Noviera pun mengungkap upaya yang telah dilakukan adalah implementasi 45% energi terbarukan telah dicapai pada tahun 2019.

Dalam setiap tahun, Bir Bintang Indonesia memiliki kapasitas biomassa MBI sebesar 80,5 juta MJ/tahun energi panas, 10.800 ton sekam telah dikumpulkan secara teratur dari 700 petani dan 1.476 ton pupuk organik dimanfaatkan oleh 120 petani. Untuk mengolah limbah, perusahaan bir itu juga telah memiliki fasilitas pengomposan di rumah kompos di brewery (peningkatan kapasitas) dan rumah pengomposan di lahan pertanian masyarakat (scaling up).

“Selanjutnya, kami merencanakan akan mengembangkan Biomas Plant Tangerang Brewary, pemasangan atap surya semua pabrik hingga tempat pembuatan bir panel surya Sampang Agung,” pungkasnya.

Artikel ini disusun oleh The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ).

Social Share